Dua Sosok Wanita Terkaya RI, Hartanya Sampai Rp71 T

Jakarta, CNBC Indonesia – Nama Prajogo Pangestu, Low Tuck Kwong hingga Duo Hartono bersaudara sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia sebagai orang terkaya di Indonesia yang masuk dalam jajaran teratas Forbes.

Namun, terdapat dua sosok wanita Indonesia yang masuk dalam orang terkaya Indonesia menurut Forbes. Dalam data Forbes Real Time Billionaires, tercantum nama Dewi Kam menjadi orang terkaya nomer enam setelah Chairul Tanjung.

Total kekayaan Dewi Kam berdasarkan data Forbes Real Time Billionaires per Selasa (2/1/2023) senilai US$4,6 miliar atau setara dengan Rp71,14 triliun (Rp15.465/US$1).

Menurut catatan Forbes, Dewi Kam memang jadi wanita terkaya no.1 di ASEAN. Namun, dalam urutan yang lebih luas, Dewi Kam menduduki posisi ke-645 sebagai wanita terkaya di dunia.

Tidak banyak yang mengenal sosok Dewi Kam sebagai seorang pengusaha sukses. Tahun 2024, Dewi Kam genap berusia 73 tahun yang berarti dia lahir pada tahun 1951. Dalam penelusuran CNBC Indonesia, satu-satunya sumber tertulis yang menyebut nama dia berasal dari buku otobiografi pendiri jaringan Hotel Sahid, Sukamdani Sahid Gitosadjono berjudul Memoar Sukamdani S.G (2001).

Dalam buku itu diketahui sekitar tahun 1993-2001, atau saat usia 40-48 tahun, Dewi Kam adalah pengusaha Indonesia yang mempunyai kegiatan bisnis di Hong Kong dan China. Dewi Kam tercatat pernah menemui dan menemani Sahid selama kunjungan di Hong Kong.

Diduga kuat, bisnis Dewi Kam sejak dulu adalah sektor energi. Sebab, catatan dari laporan Indonesia Corruption Watch (ICW) berjudul “Siapa di Balik Pembangkit Listrik?” (2020) memberi kejelasan terkait itu.

Tercatat pada 2006 Dewi Kam menghadiri penandatangan kontrak proyek energi antara Indonesia dan China sebesar US$ 3,56 milliar dalam acara Indonesia-China Forum Energy II di Shanghai. Saat itu dia menjabat posisi penting sebagai Presiden Komisaris PT Sumber Gas Sakti Prima.

Catatan ini kemudian sesuai dengan arsip Detik Finance (28 Oktober 2006) bahwa dalam kontrak ini, Dewi Kam mengelola proyek Coal Based Chemical Plant di Balocci, Sulawesi Selatan dengan nilai US$ 687 Juta.

Dalam laporan ICW itu tercatat pula kalau Dewi Kam adalah pemilik PT Sumber Gas Sakti Prima. Dia punya 91% saham bersama dengan Richard Jasin. Selain itu, Dewi Kam juga pemegang saham Birken Universal Corporation dan Direktur Savill Universal Ltd yang berlokasi di British Virgin Island, serta pemegang saham Overseas Finance Ltd yang ada di Samoa.

Karena menguasai PT Sumber Gas Sakti Prima, Dewi diketahui terlibat dalam proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jepenonto, Sulawesi Selatan. Mengutip Detik.com, keterlibatan ini dilakukan melalui PT Sumber Energi Sakti Prima (SSP), yang bermitra dengan PT Bosowa Energi. Proyek ini mulai dibangun dan beroperasi pada 2014 dengan kapasitas 2×125 MW.

Namun, yang membuat Dewi Kam tertimpa ‘durian runtuh’ adalah saat memiliki saham PT Bayan Resources. Dia adalah pemilik saham minoritas sebesar 10% di perusahaan batu bara itu. Atas dasar itulah, kekayaannya meningkat hampir 100% seiring meningkatnya nilai saham Bayan Resources sebanyak 3 kali lipat pada tahun 2022. Artinya, dia yang sebetulnya sudah kaya, jadi makin kaya pasca keuntungan Bayan.

Wanita terkaya Indonesia kedua adalah Marina Budiman. Dalam Forbes Real Time Billionaires Marina menjadi orang terkaya RI urutan 22, total kekayaan Marina hingga Selasa (2/1/2024) sebesar US$1,3 miliar atau setara dengan Rp20,1 triliun (Rp15.465/US$1).

Mengutip berbagai sumber, Marina sejatinya bercita-cita menjadi bankir. Namun, setelah mengawali karirnya di Bank Bali dengan mengerjakan proyek instalasi piranti lunak, Marina segera sadar teknologi adalah masa depan bisnis.

Kemudian, ia bergabung dengan PT Sigma Cipta Caraka sebagai project manager pada 1989 hingga 2000. Pada 1994, bersama Otto Sugiri, Marina mendirikan perusahaan penyedia jasa internet pertama di Indonesia, Indonet.

Karir Marina terus menanjak, pada 2000 hingga 2008, ia menjabat sebagai chief financial offficer Sigma. Selanjutnya, ia memegang posisi direktur penjualan dan pengantaran pada 2008 sampai 2010.

Setelah lebih dari dua dekade malang melintang di industri teknologi, Marina makin menyadari pentingnya sektor tersebut. Sementara, pasarnya belum digarap optimal di Indonesia. Kapasitas pusat data di Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara tetangga.

Akhirnya, bersama Otto Sugiri dan Han Arming Hanafia, Marina mendirikan PT DCI Indonesia pada 18 Juli 2011. Perusahaan dibesarkan menjadi operator pusat data Tier IV pertama di Asia Tenggara. Sejak 2016 hingga sekarang, Marina menjabat sebagai presiden komisaris perusahaan.

PT DCI Indonesia Tbk (DCII) telah mencatatkan kenaikan harga saham sebesar 8.042% berada di level Rp42.750 per lembar saham, Selasa (2/1/2024).

Kenaikan saham DCII yang juga menopang kekayaan Marina, yang tercatat memiliki kepemilikan saham DCII sebesar 22,51%. https://documentsemua.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*