Merdeka Belajar dan Pelestarian Bahasa Ibu

Merdeka belajar dan pelestarian bahasa ibu (Foto: Istimewa)
Merdeka belajar dan pelestarian bahasa ibu (Foto: Istimewa)

Tantangan di era globalisasi dan era kemajuan tekonologi adalah tergerusnya kearifan lokal, salah satunya Bahasa Ibu atau bisa juga disebut Bahasa Daerah. Tidak hanya itu, laju urbanisasi dari tahun ke tahun juga turut andil menjadi ancaman paling nyata semakin menipisnya penggunaan Bahasa Ibu. Bagi kalangan masyarakat desa yang merantau ke kota besar, seperti di Ibu Kota Jakarta, lalu membina rumah tangga hingga memiliki keturunan, sangat jarang sekali mengajari anaknya untuk bisa berbicara Bahasa Ibu mereka.

Dalam hal ini tentu banyak faktor mengapa para generasi kedua di perantauan sangat jarang yang melestarikan Bahasa Ibu mereka. Pertama, faktor lingkungan. Sudah barang tentu anak di perantauan sejak kecil sudah bergaul dengan berbagai latar belakang budaya dan Bahasa sedari kecil, maka mau tidak mau mereka harus bicara Bahasa Indonesia. Kedua, umumnya mayarakat perantauan menikah dengan pasangan yang bukan dari daerahnya, sudah barang tentu kedua pasangan menggunakan Bahasa Indonesia agar memiliki pemahaman yang sama agar keharmonisan keluarga terjaga.

Ketiga, modernisasi dan kemajuan teknologi. Laju modernisai dan kemajuan teknologi pada fakatanya memang selalu menjadi dua mata pisau yang berbeda. Di satu sisi ia menjadikan kehidupan menjadi lebih mudah dan cepat, di sisi lain ia meninabobokan masyarakat agar lupa dari asal-usulnya, salah satunya lupa akan Bahasa Ibunya.

Padahal Indonesia memiliki jumlah bahasa terbanyak kedua di dunia yaitu memiliki 718 bahasa. Hal ini tentu menjadi aset bangsa yang sangat berharga, karenanya kita semua termasuk pemerintah mempunyai kewajiban untuk melindungi bahasa daerah dari kepunahan. Bahkan sebetulnya tugas ini tertera dalam UUD 1945 yang mengamanatkan bahwa menghormati dan memelihara bahasa daerah merupakan upaya menjaga kekayaan budaya nasional.

Merdeka Belajar untuk Revitalisasi Bahasa Daerah 

Menyadari akan pentingnya kelestarian bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) meluncurkan Merdeka Belajar Episode 17 yang bertajuk Revitalisasi Bahasa Daerah pada Selasa (22/2/2022). Disampaikan bahwa peluncuran kebijakan ini bertepatan dalam momen Hari Bahasa Ibu Internasional yang jatuh pada 21 Februari 2022.

Saat itu, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Endang Aminudin Aziz mengatakan bahwa stigma penggunaan bahasa daerah dianggap tidak keren menyebabkan masyarakat enggan memakainya dan membuat bahasa daerah terancam punah. Ia menambahkan, kepunahan bahasa salah satunya dipengaruhi dengan sikap bahasa para penutur jati. Dan ada persepsi bahwa dengan berbahasa daerah maka itu artinya sama dengan menunjukkan diri sebagai orang kampungan, tidak keren, dan tertinggal.

Sikap seperti inilah, kata dia, yang paling kuat menjadi penyebabnya. Akibatnya para orang tua, remaja, dan anak-anak tidak lagi menggunakan bahasa daerahnya sehingga akhirnya bahasa itu memasuki fase kritis dan akhirnya punah.

Di sisi lain, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menyampaikan bahwa esensi dari bahasa lebih dari sekadar sekumpulan kata, namun bahasa merupakan identitas sebuah bangsa. Ia menyadari dan meyakinkan masyarakat bahwa bahasa itu bukan hanya sekumpulan kata, tetapi sebenarnya itu bagian daripada identitas kita sebagai bangsa. Itu adalah khazanah kekayaan kita.

Menurutnya, kekayaan terbesar bangsa ini adalah kebinekaan kebudayaan kita di Indonesia dan merupakan kekayaan terbesar bangsa ini. Maka dari itu, Mas Menteri mengingatkan bahwa kepunahan bahasa berarti kehilangan identitas dan juga kebinekaan. Oleh karena itu, kita harus menyadari bahwa kelestarian bahasa menjadi tanggung jawab bersama. 

Kabar baiknya, saat ini terdapat 217 kab/9 kota di 26 provinsi melaksanakan Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) selama tahun 2023. Sebanyak 72 bahasa daerah/dialek yang sudah direvitalisasi, 22.934 sekolah SD/SMP dan 511 komunitas terlibat , 4.158.656 siswa SD dan SMP terlibat dalam pembelajaran bahasa daerah, 96.388 pengawas, kepala sekolah, dan guru aktif terlibat, 14.317 pegiat bahasa/sastra daerah berpartisipasi, 1.696 perwakilan pemerintah daerah dan lembaga yang terlibat, serta 751.429 partisipan FTBI selama tahun 2023.

Data di atas menunjukkan bahwa program Merdeka Belajar turut menjadi bagian penting dalam pelestarian Bahasa Ibu. Semoga Bahasa Ibu kita tetap terjaga, anak cucu kita tidak hanya mengenal bahasa nenek moyangnya, namun mampu mempraktikkannya. Semoga!https://botakbrewok.com/wp-admin/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*